Pande Wayan Suteja Neka

23 01 2009

Terinspirasi Sang Leluhur

Kecintaan Pande Wayan Suteja Neka pada keris tidak terlepas dari leluhurnya yang menjadi mpu keris, karena itu ia terinspirasi untuk mengoleksi keris dan memberikan ruang khusus keris di Museum Seni Neka. Iapun mampu membangkitkan dunia pakerisan di Bali, lebih-lebih ia tidak fanatik terhadap keris kuno.

Suteja Neka selama ini dikenal sebagai pendiri Museum Seni Neka, kolektor lukisan dan juga pemerhati seni rupa, namun di ulang tahun Museum Neka ke 25, Suteja Neka membuat gebrakan baru dengan memberikankan ruang khusus untuk Keris di museum yang terletak di Sanggingan, Ubud.
Kecintaan Pande Wayan Suteja Neka terhadap keris tidak tumbuh begitu saja, tetapi karena leluhurnya, Ki Pande Sesana Tamanbali. Eyang buyutnya Pande Pan Nedeng adalah Mpu Keris dari Kerajaan Peliatan-Ubud semasa Raja Peliatan ke-3, Ida Dewa Agung Djelantik DSC_0039yang memegang tahta (1823-1845). Setelah Pande Pan Nedeng meninggal sebagai mpu keris dilanjutkan oleh anaknya Pande Made Sedeng (Kumpi dari Pande Wayan Suteja Neka).
Kakeknya bernama Pande Wayan Riyut, hidup sebagai petani. Pande Wayan Neka (1917-1980) adalah ayahnya, terkenal sebagai pematung. Membuat patung garuda setinggi 3 meter untuk New York World Fair, Amerika (1964), dan Expo’70 Osaka di Osaka, Jepang (1970). Menerima anugerah seni Wija Kusuma dari Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar dan penghargaan seni Dharma Kusuma dari Pemerintah Daerah Propinsi Bali (1995). Pande Wayan Suteja Neka sendiri (pendiri Museum Seni Neka), juga pencinta dan kolektor keris.
Sebilah keris pusaka (warisan leluhur) bernama “Ki Sesana” berada pada Pande Wayan Suteja Neka. Keris tersebut dengan Dapur Sabuk Inten, rincikannya: kembang kacang, jenggot, lambe gajah rangkap, jalen, sogokan dua, kruwingan, gusen, greneng lengkap, pamor beras wutah. Keris ini menggunakan ganja wilut, sogokan sampai setengah bilah menggunakan rincikan khusus (tinggil) pada depan ganja. Keris ini dibuat dan diperuntukkan bagi orang-orang khusus pada jamannya.
Pada 1970, Pande Wayan Suteja Neka untuk pertama kalinya membeli dua bilah keris. Kedua bilah keris tersebut dengan perlambang Singa Barong Luk 11 dan keris yang bersimbul Nagasasra Luk 13. Pada 26 Nopember 2006, bilah keris Nagasasra Luk 13 itu, ditatah emas pada ahli kinatah emas, Nugroho Priyo Waskito di Yogyakarta. Sekarang keris Nagasasra Luk 13 dengan kinatah emas terpajang di Museum Seni Neka.
Koleksi Museum Seni Neka terdapat beberapa keris tua karya mpu masa lalu, para kolektor keris rela melepas koleksi kerisnya, karena akan dilestarikan dalam pengembangan koleksi Museum Seni Neka. Museum Seni Neka memiliki koleksi 272 bilah keris, termasuk keris pusaka dari Kerajaan-kerajaan di Bali, keris karya mpu masa lalu/kuno dan keris-keris hasil garapan mpu masa kini.
Keris-keris garapan mpu masa lalu dan mpu masa kini dikoleksi dan dipajang di Museum Seni Neka, dengan harapan dapat dijadikan pembanding dan dorongan pada penggarap keris masa kini lainnya. Untuk para kolektor keris kalau kurang beruntung mendapatkan keris tua/kuno yang indah dan utuh tidaklah mengurangi nilai koleksi, apabila dilengkapi dengan karya penggarap keris masa kini yang garapannya memang indah mengandung nilai seni.

Bangkitkan Pakerisan di Bali

Kiprah Pande Wayan Suteja Neka dalam dunia pakerisan tidak bisa diragukan lagi. Terbukti semenjak ia menjadi kolektor keris dan memajang kerisnya dalam ruangan khusus di Museum Seni Neka, dunia pakerisan di Bali bangkit kembali. Dulunya keris hanya dipandang sebagai pelengkap upacara saja, tetapi sekarang lebih dari itu. Keris merupakan benda seni, seperti patung dan juga lukisan. Bahkan orang-orang yang dulunya hanya menyukai keris kuno mulai tertarik dengan keris baru (kamardikan), setelah melihat koleksi keris kamardikan Museum Neka.
Suteja Neka tidak ‘takut’ memajang nama mpu keris masa kini, walaupun mpu itu masih tergolong muda. Baginya yang terpenting hasil garapannya bagus dan layak dipajang di museum. Justru dengan memajang nama mpu penggarapnya, secara tidak langsung ia memberikan penghormatan kepada para mpu masa kini itu.
Baginya keris lama dan baru sama, karena keris baru lama-kelamaan juga akan menjadi keris kuno, yang terpenting baginya garapannya bagus dan mengandung nilai seni. Ketidak fanatikannya terhadap keris kuno menjadikannya kolektor yang disegani. Tanpa ia sadari, dengan membuka diri untuk keris kamardikan, ia membangkitkan kembali dunia pakerisan di Bali. Mungkin saja jika tidak ada Suteja Neka yang terbuka menerima keris baru, para mpu keris mulai enggan berkarya.
Karena tidak memandang sebelah mata terhadap keris baru, nama Suteja Neka yang baru menggeluti keris sejak beberapa tahun belakang ini ‘meroket’. Ia dengan cepat dikenal dalam dunia pakerisan dan kiparhnya juga mendapatkan pengakuan, itu semua karena ketulusan dan keberaniannya mendirikan museum keris dan juga memberikan tempat untuk keris kamardikan.
Pengakuan atas kiprahnya dalam dunia pakerisan bisa dibuktikan dengan terpilih sebagai salah satu juri dari tiga dewan juri, dalam Kamardikaan Award 2008 yang diselenggarakan Panji Nusantara di Bentara Budaya Jakarta.
Selain itu, untuk memberikan pemahaman yang benar tentang keris, Pande Wayan Suteja Neka mendatangkan mpu KRT Subandi Soponingrat. Mpu asal solo tersebut memaparkan proses pembuatan keris dan juga cara perawatannya di hadapan warga Pande Peliatan Ubud. Disamping itu, Suteja Neka juga kerap kali menyelenggarakan sarasehan tentang keris, ini sebagai bukti kalau ia benar-benar ingin melestarikan keris.
Suteja Neka juga sering diundang dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia Pakerisan, seperti dialog keris di Duta Art Gallery, Kemang Jakarta, yang diselenggarakan SNKI, hadir pula dalam dialog tersebut Garett dan istrinya Bronwen Solyom penulis buku The world of Javanese Keris dari East West Center Honolulu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: